Sepanjang 2026, pola serangan siber bergeser signifikan. Bukan cuma malware atau phishing email — kini sosial engineering lewat telepon jadi senjata utama.
Astrana Health (22 September) melaporkan ke SEC bahwa peretas menyamar sebagai karyawan dan memalsukan nomor telepon kantor. Dengan teknik spoofing ini mereka menghubungi staf, mendapatkan kepercayaan, lalu membobol server. Mekanisme klasik, tapi efektif karena menarget manusia, bukan sistem.
DentaQuest mengalami yang lebih parah. Serangan Mei lalu mengorbankan 15 juta pasien — terbesar di sektor kesehatan tahun ini. Kelompok ShinyHunters mencuri 234 GB data, termasuk rekam medis dan informasi identitas, lalu mengancam merilisnya di dark web. Peretas hanya butuh tiga hari di dalam jaringan sebelum menemukan target berharga.
Boston Scientific juga terpukul. Serangan Agustus lalu memaksa perusahaan melewatkan target penjualan 2026. Perusahaan medtech ini belum mengonfirmasi apakah ransomware terlibat, tapi kerugian operasional sudah nyata.
Pola yang sama: kelompok seperti ShinyHunters, Qilin, dan The Gentlemen makin agresif. Ransomware global pecah rekor 1.073 organisasi korban di Agustus — naik 12% dari Juli.
Yang harus dilakukan perusahaan:
- Latih staf mengenali panggilan mencurigakan — jangan langsung percaya meski nomornya terlihat resmi
- Terapkan autentikasi dua langkah di semua sistem kritis
- Pisahkan jaringan klinis dari jaringan kantor
- Siapkan rencana respons insiden, bukan cuma rencana pemulihan
Sektor kesehatan menjadi sasaran utama karena data medis bernilai tinggi di dark web — jauh lebih mahal dari data kartu kredit. Tapi pelajaran ini berlaku untuk semua industri: serangan paling efektif menyerang titik terlemah, yaitu manusia.