Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup pekan perdagangan 29-30 September 2026 dengan tekanan yang belum berhenti. Sejak 7 September, indeks turun empat pekan beruntun — dari 6.541 menjadi 6.071, koreksi 6,42% dalam sebulan. BRI Danareksa memperkirakan indeks akan tetap bergerak dalam fase konsolidasi 6.000–6.200, dengan support fibonacci di 6.019.
Asing keluar, domestik masuk
Data perdagangan 23–29 September menunjukkan pola yang kontras. Investor asing mencatat net sell Rp4,42 triliun di seluruh pasar (jual Rp23,81 T vs beli Rp19,39 T). Investor domestik sebaliknya membukukan net buy Rp4,43 triliun (beli Rp40,14 T vs jual Rp35,71 T). Artinya, seluruh tekanan jual asing selama sepekan itu tertahan sepenuhnya oleh pembelian retail dan institusi dalam negeri.
BBCA menjadi saham paling banyak dilepas asing, dengan net sell Rp144 miliar per sesi I pada 30 September. Di sisi beli, ANTM memimpin dengan net buy Rp48 miliar.
Sinyal teknikal: jenuh jual
Mirae Asset Sekuritas menilai RSI telah berada di area extremely oversold, disertai pola hammer candle yang terbentuk — indikasi awal pemulihan jangka pendek. MNC Sekuritas memproyeksikan IHSG masih pada wave c dari wave (y), dengan target rebound 6.152–6.196 dan potensi koreksi lanjutan ke 5.850–5.946.
Fundamental ekonomi domestik belum menunjukkan tekanan sebanding dengan volatilitas pasar. BI memproyeksikan pertumbuhan 4,9–5,7% untuk 2026, dan inflasi Agustus tetap di 3,19% (YoY).
Pertanyaannya sekarang: apakah penguatan investor domestik ini cukup menahan IHSG di atas 6.000, atau tekanan jual asing akan berlanjut ke pekan Oktober?