Ancaman siber di Indonesia memasuki babak baru yang jauh lebih serius. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat 5,5 miliar aktivitas serangan siber sepanjang 2025 — melonjak lebih dari tujuh kali lipat dibandingkan rata-rata tahunan periode 2020–2024. Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melaporkan kerugian masyarakat akibat penipuan digital sudah menembus Rp 7,5 triliun.
Kecerdasan buatan menjadi katalis utama. Laporan Cyber Threat Landscape Report 2026 dari Ensign InfoSecurity menyebut AI dimanfaatkan peretas untuk mempercepat pengintaian, pemindaian kerentanan, hingga membuat umpan phishing yang lebih meyakinkan. Aktivitas ransomware di ASEAN bahkan meningkat dua kali lipat sepanjang 2025, didominasi 18 kelompok peretas utama. Kawasan Australasia dan Asia Timur mencatat lonjakan di atas 400–600 persen.
Head of Consulting Ensign InfoSecurity Indonesia, Adithya Nugraputra, mengingatkan siklus pembaruan kemampuan AI hanya sekitar dua bulan sekali. “Organisasi tidak bisa lagi mengandalkan kontrol keamanan yang statis,” ujarnya. Prioritasnya: pemindaian dan patch pada aset yang terhubung internet, serta pengujian pertahanan secara berkala terhadap model AI terbaru.
UMKM jadi sasaran paling rentan. Survei Kaspersky menunjukkan 92 persen UMKM Indonesia mengalami insiden siber setahun terakhir — tertinggi ketiga di Asia Tenggara. Phishing, malware massal, dan eksploitasi kerentanan menjadi serangan paling sering. Separuh UMKM mulai menambah anggaran keamanan siber; 48 persen berinvestasi untuk memperluas tim TI.
Yang juga mengkhawatirkan: kampanye malware Android GoldFactory yang mengkloning aplikasi perbankan untuk mencuri dana nasabah Indonesia. Pelajaran untuk semua: perbarui perangkat, waspadai phishing, dan jangan abaikan keamanan — baik di level korporasi maupun pribadi.