Skip to content
Teguh Yuhono
Go back

Breach Gyazo 23,6 Juta Akun dan Gelombang Ransomware September 2026

September 2026 menjadi bulan sibuk bagi dunia keamanan siber. Dua peristiwa besar mencuat dalam sepekan terakhir: kebocoran data puluhan juta pengguna Gyazo serta klaim serangan ransomware terhadap Pertamina dan pemerintah daerah di Indonesia.

Gyazo bocorkan data 23,6 juta pengguna. Helpfeel Inc., perusahaan asal Kyoto di balik layanan screenshot sharing Gyazo, mengonfirmasi pada 16 September bahwa penyerang membobol server upload gambar pada 11 September. Celah itu memungkinkan pelaku mengunggah file berbahaya dan menjalankan perintah sewenang-wenang, lalu mencuri data dari database akun. Total sekitar 23,62 juta rekor pengguna dan metadata 490 juta gambar ikut terekspos, termasuk email, hash password, alamat IP, teks hasil OCR, hingga data lokasi dari EXIF. Access penyerang diputus keesokan harinya, dan Helpfeel telah melapor ke Komisi Perlindungan Data Pribadi Jepang. Risiko terbesarnya: ID gambar yang bocor bisa membuat tautan berbagi yang dianggap privat menjadi bisa ditebak.

RansomHouse klaim serang Pertamina. Pada 17 September, grup ransomware RansomHouse mencantumkan Pertamina di situs kebocoran mereka. Klaim ini masih bersifat dugaan dan belum ada konfirmasi resmi dari Pertamina. Namun karena Pertamina adalah BUMN energi yang mengelola rantai pasok minyak dan gas, setiap indikasi kompromi sistem IT selalu menarik perhatian. Para peneliti menekankan bahwa pencatuman di leak site tidak otomatis berarti seluruh infrastruktur pembangkit atau operasional BBM terganggu.

Kominfo Jateng dibobol kelompok Panzer. Masih dari Indonesia, grup ransomware Panzer mengklaim mengeksfiltrasi 62 GB data Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Tengah. Serangan terdeteksi pada 3 September dan hingga kini belum ada pengumuman resmi atau konfirmasi dari pihak pemerintah.

Pelajaran dari rangkaian insiden ini: data sekecil apa pun punya nilai. Ganti kata sandi secara berkala, aktifkan autentikasi dua faktor, dan waspadai tautan berbagi file yang berisi data sensitif — karena apa yang tampak “privat” bisa berubah publik seketika.

Sumber: Tech Insider, The Hacker News, Security Affairs, Dark Eye, Ransomware.live.



Previous Post
Ransomware Berbasis AI Melonjak: BSSN Catat 5,5 Miliar Serangan Siber di Indonesia
Next Post
IHSG Tertekan The Fed, Pasar Menanti Keputusan RDG BI