Pasar modal Indonesia memasuki awal September 2026 dengan volatilitas yang cukup tinggi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Rabu (2/9/2026) ditutup melemah tipis 0,14 persen ke level 6.590,9 setelah sempat bergerak di zona merah sepanjang sesi. Pelemahan ini mengikuti bursa kawasan Asia dan global yang tertekan oleh kenaikan harga minyak dunia, yang memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan suku bunga.
Namun beberapa hari sebelumnya IHSG sempat menunjukkan performa positif. Pada Selasa (1/9/2026), indeks ditutup menguat 1,14 persen ke level 6.599, didorong aksi beli di sektor perbankan dan berakhirnya tekanan dari aksi jual asing. Pekan sebelumnya, IHSG juga menguat terbatas 7,36 poin ke 6.525,48 saat pelaku pasar mencermati arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed).
Di luar pergerakan harian, sejumlah kabar korporasi turut mewarnai bursa. Platform investasi Ajaib dikabarkan menerima suntikan dana Rp 4,8 triliun dari SBI Holdings asal Jepang, meski perusahaan memastikan belum memiliki rencana penawaran umum perdana (IPO). Sementara itu, rencana IPO PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo kembali menjadi perbincangan hangat, dengan pelaku pasar menimbang potensi keuntungan dan risiko dari aksi korporasi BUMN terbesar tahun ini tersebut.
Dengan sentimen global yang masih bergejolak, investor disarankan mencermati pergerakan harga minyak dan kebijakan suku bunga global sebagai penentu arah IHSG jangka pendek.