Skip to content
Teguh Yuhono
Go back

74% Serangan Phishing Global Kini Memanfaatkan AI Generatif

Laporan keamanan global dari Zscaler yang terbit 3 September 2026 mencatat angka yang mengkhawatirkan: 74% insiden phishing pada kuartal II-2026 memanfaatkan alat AI generatif. Angka ini naik signifikan dibanding periode sebelumnya, menunjukkan bahwa AI tidak lagi hanya menjadi alat pertahanan, tetapi juga senjata utama para penyerang.

Kenapa AI Mengubah Permainan Phishing

Sebelumnya, email phishing mudah dikenali dari tata bahasa yang kaku dan alur cerita yang generik. Kini, model bahasa besar (LLM) memungkinkan penyerang membuat pesan dalam bahasa alami yang mulus, meniru gaya penulisan kolega atau vendor, bahkan merespons percakapan balasan secara real-time. Kampanye spear-phishing yang dulu butuh waktu berjam-jam untuk disusun secara manual, kini bisa dihasilkan dalam hitungan detik dan diskalakan ke ribuan target sekaligus.

Hal yang sama berlaku di Indonesia. Serangan yang mengatasnamakan bank, marketplace, atau instansi pemerintah semakin sulit dibedakan dari komunikasi resmi, dengan tautan berbahaya yang tersembunyi rapi di balik halaman login tiruan.

Yang Bisa Dilakukan

Pengguna individu disarankan aktifkan autentikasi dua faktor (2FA/MFA) di semua akun penting dan verifikasi alamat pengirim sebelum mengklik tautan. Untuk organisasi, Zscaler merekomendasikan pelatihan keamanan berbasis simulasi phishing AI, serta solusi email security yang memanfaatkan deteksi berbasis perilaku, bukan sekadar daftar hitam.

Yang jelas, pertarungan kini berlangsung antara AI penyerang dan AI pertahanan. Kesiapsiagaan manusia tetap menjadi lapisan terakhir yang menentukan.



Previous Post
IHSG Menuju 7.000: Target JPMorgan dan Jajaran Aturan Baru BEI
Next Post
IHSG Tertekan Harga Minyak, IPO Pelindo dan Suntikan Dana Ajaib Mewarnai Pasar Modal