Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada perdagangan Senin. ANTARA melaporkan IHSG ditutup melemah 94,03 poin atau 1,51 persen ke posisi 6.147,86, sementara indeks LQ45 turun 1,50 persen ke 611,81. Sehari sebelumnya, pada sesi I Senin 28 September, CNBC Indonesia mencatat IHSG sudah terkoreksi 60,46 poin ke 6.181,43 dengan 496 saham melemah dan nilai transaksi hanya Rp6,42 triliun.
Tekanan datang dari kombinasi sentimen global dan domestik. Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menyebut bursa regional Asia cenderung melemah seiring ketidakpastian di Timur Tengah dan harga minyak yang lebih tinggi. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun yang mendekati 5,17 persen juga memicu kekhawatiran pengetatan keuangan global. Dari dalam negeri, tingginya biaya minyak dinilai berpotensi membebani fiskal.
Di tengah koreksi itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) meluncurkan dua reformasi struktural. Pertama, batas bawah harga saham dipangkas dari Rp50 menjadi Rp1 per lembar mulai 28 September untuk perdagangan di pasar reguler dan tunai. Langkah ini diklaim untuk meningkatkan kualitas price discovery dan likuiditas, sekaligus menjawab kekhawatiran MSCI terkait struktur pasar. Bersamaan dengan itu, BEI memperketat kriteria Full Call Auction (FCA) dengan menghapus pemicu non-fundamental, sehingga 92 saham keluar dari Papan Pemantauan Khusus.
Kedua, BEI mengembalikan mekanisme short selling secara bertahap mulai 1 Oktober 2026. Katadata melaporkan, melalui SK Direksi No. Kep-00135/BEI/09-2026, lima saham konglomerat ditetapkan sebagai daftar awal: ASII, BBCA, BRPT, BUMI, dan INDF. Dua anggota bursa yang memfasilitasi adalah Semesta Indovest Sekuritas dan Ajaib Sekuritas. Investor wajib memiliki modal minimal Rp50 juta dan rekening reguler minimal enam bulan. Transaksi ini sempat dilarang total sejak Maret 2020 saat pandemi.
Analis mengingatkan reformasi Rp1 bisa meningkatkan kepercayaan institusi global, namun juga rawan menimbulkan tekanan psikologis bagi ritel dan spekulasi jangka pendek. Data Stockbit menunjukkan asing net sell Rp129,63 miliar di sesi I, dengan penjualan terbesar di BMRI Rp115,34 miliar, TLKM Rp48,09 miliar, dan BBCA Rp35,46 miliar, sementara asing masih mengoleksi PTBA, BBRI, dan DSSA. Investor disarankan selektif dan fokus pada fundamental di tengah volatilitas.