Skip to content
Teguh Yuhono
Go back

IHSG Anjlok 3,09% Sepekan, Nilai Transaksi BEI Ambrol 21% dan Asing Net Sell Rp3,5 Triliun

Indeks Harga Saham Gabungan menutup pekan 21-25 September 2026 di level 6.241,89, turun 3,09 persen dari 6.441,15 pada pekan sebelumnya. Itu koreksi kedua berturut-turut, setelah pekan sebelumnya IHSG turun 1,53 persen dan meninggalkan posisi 6.500.

Yang lebih menarik justru di sisi likuiditas. Rata-rata nilai transaksi harian turun tajam 21,32 persen menjadi Rp11,98 triliun dari Rp15,22 triliun. Frekuensi transaksi menyusut 3,95 persen menjadi sekitar 1,81 juta kali. Namun volume justru naik 2,04 persen menjadi 29,20 miliar saham. Kenaikan volume di tengah turunnya nilai transaksi adalah ciri pasar yang sedang lemah: uangnya pindah ke saham-saham berkapitalisasi kecil, bukan ke saham blue chip. Kapitalisasi pasar BEI menyusut 3,20 persen menjadi Rp10.905 triliun, atau Rp361 triliun lenyap dalam lima hari perdagangan.

Tidak ada sektor yang aman

Koreksi ini meluas tanpa pengecualian. Sektor industri menjadi kontributor terbesar penurunan dengan minus 5,48 persen, disusul infrastruktur (-4,10 persen), teknologi (-3,96 persen), consumer non-cyclical (-3,50 persen), energi (-2,94 persen), dan bahan dasar (-2,59 persen). Ketika enam sektor terberat turun serempak, penyebabnya hampir pasti bukan emiten individual, melainkan faktor makro.

Tiga katalis eksternal

MNC Sekuritas menunjuk tiga sumber tekanan. Pertama, The Fed menaikkan suku bunga acuan ke 4 persen dan yield obligasi AS naik di atas 5 persen, yang memperkuat dolar dan menarik dana keluar dari pasar negara berkembang. Kedua, rupiah melemah ke 17.942 per dolar AS, memicu kekhawatiran capital outflow dan tekanan pada Surat Berharga Negara. Ketiga, harga minyak mentah naik di atas US$100 per barel, jauh di atas asumsi US$70 per barel di APBN 2026, yang menyempitkan ruang_subsidi dan ruang fiskal pemerintah.

Dana asing mencatat net sell sekitar Rp3,5 triliun dalam sepekan terakhir. Angka sejak awal tahun sudah mencapai Rp104,8 triliun. Itu bukan noise, melainkan arus keluar yang konsisten dan berlarut.

Support 6.220 dan kebijakan baru

Hendra Wardana dari Republik Investor menempatkan 6.220-6.230 sebagai support krusial. Bila bertahan, peluang rebound menuju 6.320, lalu 6.370-6.410. Bila jebol, area berikutnya 6.150-6.180. Indikator stochastic sudah masuk zona oversold, sehingga technical rebound tetap mungkin terjadi. MNC Sekuritas memproyeksikan area uji 6.157-6.209 dengan support 6.174 dan 6.108, serta resistance 6.380 dan 6.535.

Mulai Senin (28/9/2026), BEI memberlakukan penurunan batas harga minimum saham menjadi Rp1 per hari. Kebijakan ini menaikkan volatilitas, terutama pada saham berharga rendah.

Rekomendasi di fase ini bukan agresif, bukan pula pasif penuh: akumulasi bertahap pada saham dengan fundamental dan prospek bisnis yang jelas, sisakan kas untuk menghadapi koreksi lanjutan. Kalau support 6.220 bertahan dan indeks tembus 6.320, baru tambah porsi. Kalau support ditembus, kurangi eksposur dan tunggu area pembatas baru terbentuk.



Previous Post
IHSG Koreksi ke 6.147: BEI Pangkas Batas Harga ke Rp1 dan Hidupkan Lagi Short Selling
Next Post
1,52 Miliar Serangan Siber di Indonesia dalam Empat Bulan, AI Jadi Penguat