Skip to content
Teguh Yuhono
Go back

Ransomware 2026: Agen AI Menyerang Tanpa Operator Manusia

Ancaman ransomware sepanjang 2026 menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan. Laporan Cybersecurity News mengungkap serangan pertama yang dijalankan agen AI secara end-to-end: ransomware bernama JADEPUFFER mampu mencuri kredensial, mengenkripsi data, hingga menargetkan model AI korban lewat layanan yang terekspos — semuanya tanpa operator manusia. Ini menggeser paradigma keamanan: dulu penyerang butuh analis, kini algoritma yang bekerja.

Bersamaan dengan itu, muncul SETTRA, varian ransomware baru yang menyerang jaringan Windows melalui VPN dan kredensial yang dicuri, memanfaatkan tool manajemen jarak jauh MeshAgent serta teknik BYOVD (Bring Your Own Vulnerable Driver) untuk memblokir pemulihan.

Rantai pasok teknologi juga menjadi sasaran empuk. Tiga bandara Inggris — Manchester, London Stansted, dan East Midlands — melaporkan kebocoran data pribadi 8,7 juta pelanggan setelah sistem pihak ketiga diretas, dengan pelaku meminta tebusan. Pola serupa terjadi di Australia: perusahaan manajemen mesin Macquarrie menjadi korban ransomware Storm lewat vendor eksternal, sementara sistem HR SmartHRMS di Singapura ikut terdampak.

Pelajaran yang bisa dipetik individu dan organisasi: segera tambal VPN dan layanan yang terekspos publik, aktifkan autentikasi multi-faktor, batasi akses vendor pihak ketiga, dan rutin backup offline. Di era agen AI, kecepatan deteksi dan respons menjadi pembeda antara insiden kecil dan bencana data.



Previous Post
IHSG Anjlok 1,53% Sepekan ke 6.441, Asing Jual Bersih Rp 1,79 Triliun
Next Post
Gelombang Regulasi AI Menguat: Kongres hingga Kerajaan Inggris Bergerak