Kesadaran akan risiko kecerdasan buatan (AI) kini bergerak cepat dari ruang riset ke panggung kebijakan publik di banyak negara. Dalam sepekan terakhir, sejumlah institusi besar secara bersamaan menyuarakan urgensi pengaturan AI.
Di Amerika Serikat, Senator Cory Booker secara resmi menyerukan sidang khusus (special session) Kongres untuk membahas kebijakan AI. Langkah ini sejalan dengan peringatan keras dari Yoshua Bengio, peneliti yang dijuluki “godfather of AI”, yang menyatakan Kongres hanya punya waktu “mungkin satu tahun lagi” untuk menetapkan regulasi sebelum teknologi melampaui kemampuan pengawasan hukum.
Di Inggris, Raja Charles dilaporkan bertemu langsung dengan para pemimpin industri AI untuk membahas risiko keamanan. Pertemuan di tingkat kepala negara ini menandakan bahwa isu keamanan AI kini dianggap setara dengan isu keamanan nasional lainnya.
Sementara itu, di tingkat negara bagian, Kansas Board of Regents berfokus menyusun standar kebijakan AI untuk institusi pendidikan tinggi. Ini contoh bagaimana regulasi AI mulai menjangkau sektor pendidikan dan tata kelola lokal.
Bill Gates, dalam tulisannya di Gates Notes, menilai era AI saat ini turbulen dan pilihan yang diambil sekarang akan menentukan arah jangka panjang. Menurutnya, keputusan soal tata kelola, keamanan, dan kesetaraan akses tidak bisa lagi ditunda.
Gelombang ini menunjukkan arah yang jelas: AI tidak lagi hanya soal inovasi, tetapi juga soal aturan main. Bagi Indonesia, perkembangan ini jadi pengingat bahwa kerangka regulasi AI perlu disiapkan sejak dini, bukan menunggu krisis.