Kecerdasan buatan (AI) kini bukan sekadar topik teknologi, melainkan agenda utama diplomasi dunia. Dalam sepekan ini, sejumlah peristiwa menunjukkan AI semakin menjadi pusat percakapan di panggung politik global.
Pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping disebut-sebut akan membahas AI secara langsung. Mengutip NPR, pembicaraan “track two”—dialog informal para cendekiawan dan mantan pejabat kedua negara—sudah lebih dulu berjalan sengit memetakan isu-isu yang menjadi kepentingan bersama, mulai dari keamanan model hingga tata kelola data lintas batas.
Di New York, pemerintahan Trump berencana menggelar acara tingkat tinggi tentang AI di sela-sela Sidang Umum PBB pekan depan. CNN melaporkan forum tersebut akan dihadiri pemimpin negara dan pimpinan industri, menandakan bahwa AS ingin memosisikan diri sebagai pemimpin sekaligus penengah dalam percakapan tata kelola AI global.
Fenomena serupa terlihat di ranah domestik. Colorado Startup Week yang baru saja berakhir dilaporkan didominasi AI—hampir di setiap sesi ada pembahasan kecerdasan buatan. Menariknya, para peserta menilai kehadiran tatap muka justru semakin bernilai di tengah maraknya produk berbasis AI, karena koneksi antarmanusia menjadi pembeda yang tak bisa digantikan mesin.
Sementara itu, media seperti U.S. News mencatat pekan ini dipenuhi peringatan seputar AI, mulai dari potensi persenjataan ruang angkasa hingga risiko kecerdasan buatan yang belum terkendali. Semua indikator mengarah pada satu kesimpulan: tahun 2026 menjadi momen di mana tata kelola AI tidak lagi bisa ditunda, dan keputusan yang diambil para pemimpin dunia dalam beberapa bulan ke depan akan menentukan arah teknologi ini selama dekade berikutnya.