Minggu ini dunia keamanan siber kembali diingatkan bahwa manusia adalah celah terbesar. McKesson, distributor farmasi terbesar di Amerika Serikat, mengonfirmasi insiden keamanan yang diklaim grup ekstorsi ShinyHunters mengekspos ratusan juta rekor pasien, karyawan, dan tenaga kesehatan.
Menurut penjelasan para penyerang, aksi ini dimulai dari vishing — panggilan telepon penipuan yang menyamar sebagai staf IT internal. Kredensial Okta single sign-on yang dicuri lalu dipakai menembus lingkungan Salesforce dan Snowflake perusahaan. ShinyHunters mengklaim mencuri sekitar 284 juta rekor (hitungan mentah baris data, bukan jumlah individu) dan menuntut tebusan lebih dari 55 juta dolar AS dengan tenggat 72 jam. Peneliti keamanan yang memeriksa sampel kebocoran menemukan 6,4 juta alamat email unik beserta nama, tanggal lahir, hingga catatan klinis.
Sementara itu, grup ransomware N0n aktif menyerang beberapa target: AstraZeneca Turki dengan ancaman membocorkan konfigurasi keamanan jaringan 940 MB, serta United Federation of Teachers di AS dengan 181 ribu dokumen arsip hukum. Di Kansas, Ellis County memutus layanan IT-nya sendiri setelah terdeteksi ransomware pada 17 September, meski 911 tetap beroperasi.
Pelajaran praktisnya jelas. Pertama, serangan telepon (vishing) kembali jadi pintu masuk utama karena tidak bisa “di-patch” seperti celah perangkat lunak. Kedua, satu kredensial SSO yang bocor membuka banyak sistem sekaligus. Aktifkan verifikasi langkah ganda yang tahan phishing, latih karyawan mengenali panggilan mencurigakan, dan jangan anggap perusahaan besar kebal — bahkan raksasa farmasi pun bisa jatuh dari satu panggilan telepon.