Dunia kecerdasan buatan kembali dihebohkan oleh peringatan yang datang dari dalam industri itu sendiri. Seorang peneliti senior Anthropic mengundurkan diri dengan membawa pesan keras: “Orang-orang yang membangun teknologi ini mengakui bahwa teknologi ini bisa mengancam masa depan umat manusia,” ujarnya pekan ini sebagaimana dilaporkan US News.
Peringatan serupa muncul dari kalangan ilmuwan dan politisi. Dalam laporan The Guardian, para ahli menyebut kemungkinan AI superintelligent menjadi ancaman eksistensial bagi manusia dalam satu dekade ke depan. Seorang karyawan senior Anthropic bahkan mengaku meyakini ada kemungkinan lebih dari sepuluh persen teknologi tersebut berujung pada konsekuensi yang sangat buruk.
Kekhawatiran tidak berhenti pada risiko kepunahan. The American Prospect mengungkap bahwa Anthropic sedang membangun sistem pengawasan prediktif untuk memantau aktivis yang menentang perkembangan AI yang terlalu cepat. Langkah ini memicu pertanyaan besar: apakah perusahaan yang paling vokal menyuarakan keamanan AI justru menggunakan teknologi pengawasan untuk membungkam kritik?
Di sisi lain, ketegangan geopolitik ikut memanas. AS menuduh perusahaan AI Cina melakukan pencurian teknologi berskala industri, tuduhan yang dibantah keras oleh pihak Cina (Reuters, CNN). Di tengah semua ini, Indonesia sendiri mencatat 33 persen pekerja berada di garis depan adopsi AI menurut Work Trend Index Microsoft 2026, dengan kemampuan berpikir kritis menjadi keterampilan paling dicari.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah AI akan mengubah dunia, tetapi bagaimana kita menyikapi risikonya sebelum perubahan itu tak lagi bisa dikendalikan.