Ancaman ransomware pada 2026 tidak lagi sekadar soal file terenkripsi dan kunci dekripsi. Kaspersky Global Emergency Response Team (GERT) mengungkap taktik baru keluarga ransomware “Payload” yang ditemukan saat menangani insiden di sebuah perusahaan manufaktur Timur Tengah. Penyerang tidak menyebar enkripsi konvensional — mereka justru membajak Group Policy Object (GPO) di Active Directory untuk mengunci perangkat, memasang wallpaper ransom, dan melumpuhkan akun administrator secara massal.
Pendekatan ini disebut encryptionless extortion: penyerang mengutamakan gangguan operasional dan kebocoran data di dark web, bukan bergantung pada kunci kriptografi untuk memeras korban. Laporan State of Ransomware 2026 Kaspersky mencatat tren pergeseran ini semakin nyata. Yang mencemaskan, akses awal didapat lewat phishing untuk mencuri kredensial administrator, lalu masuk lewat VPN tanpa terdeteksi — tampak seperti aktivitas IT rutin.
Di sisi lain, kelompok Akira masih produktif mengeksploitasi celah lama SonicWall (CVE-2024-40766, skor CVSS 9.3) yang sebenarnya sudah ditambal sejak Agustus 2024. ThreatDown menyebut ini “utang patch” (patch debt): celah dua tahun tetap dipakai karena banyak perangkat tidak pernah diperbarui. Bahkan penyerang Aurora ransomware dilaporkan memakai asisten coding AI, Cursor, untuk merencanakan serangan ke lebih dari 20 organisasi di sembilan negara.
Pelajaran untuk organisasi di Indonesia: perbarui perangkat secara konsisten, aktifkan multi-factor authentication pada VPN dan portal admin, batasi akses administratif, dan geser pertahanan dari sekadar pemindaian malware ke pemantauan perilaku. Kredensial istimewa adalah kunci utama — lindungi seolah itulah gerbang terakhir jaringan Anda.