Pasar modal Indonesia mencatat performa positif pada pekan ketiga Juli 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 4,24% ke level 6.175,5 — rebound signifikan dari level 5.924 pada pekan sebelumnya. Kapitalisasi pasar bursa pun naik menjadi Rp10.749 triliun, dengan total frekuensi perdagangan mencapai 11,6 juta kali transaksi.
Pergerakan ini didorong oleh sentimen positif dari dalam negeri, termasuk optimisme terhadap reformasi pasar modal yang tengah digodok Otoritas Jasa Keuangan (OJK). OJK menyambut positif wacana insentif pasar modal yang diyakini dapat mendorong pertumbuhan saham, obligasi, dan reksa dana sepanjang 2026.
Dari sisi penawaran umum perdana (IPO), Bursa Efek Indonesia (BEI) membidik 50 perusahaan baru melantai di bursa tahun ini — target ambisius setelah realisasi 26 IPO pada 2025. Pada Juli 2026, lima calon emiten siap melaksanakan IPO, tiga di antaranya dari sektor kesehatan. Emiten seperti Prodia Diagnostic Line (PRDL) turut dalam pipeline dengan rencana pemanfaatan dana untuk pelunasan utang.
Faktor pendorong lain adalah pertumbuhan investor domestik yang terus melesat. Per 30 Juni 2026, jumlah investor pasar modal mencapai 28,9 juta Single Investor Identification (SID), naik signifikan dari 1,7 juta pada 2020. Mirae Asset Sekuritas optimistis jumlah investor ritel saham bisa menembus 7,5 juta pada akhir tahun, didorong literasi keuangan digital dan edukasi pasar modal yang masif.
Dengan IHSG yang mulai menunjukkan momentum penguatan, pipeline IPO yang padat, dan basis investor yang terus bertambah, pasar modal Indonesia masih memiliki prospek cerah di paruh kedua 2026.