HUT Pasar Modal ke-49 (10 Agustus 2026) menyambut penguatan momen: IHSG melonjak ke 6.440 dan rupiah menguat. Momentum itu tak berlangsung lama. Hanya beberapa hari kemudian, indeks justru anjlok menjadi terlemah di Asia, turun ke 6.309 dan memicu trading halt di BEI.
Bhima Yudhistira (CELIOS) menilai koreksi tajam ini anomali: «IHSG menjadi yang terlemah di Asia. Sebagian besar indeks Asia justru positif hari ini.» Faktor eksternal bukan satu-satunya penyebab — struktur pasar dalam negeri juga rentan.
Arus modal asing keluar memperparah tekanan. Data menunjukkan net sell asing berkelanjutan, mendorong IHSG ke zona koreksi lebih dalam. Hendra (pengamat pasar) menegaskan: «Kondisi ini menunjukkan pasar modal Indonesia sedang diuji cukup berat, bukan kondisi sepenuhnya resilien.»
Sektor industri memimpin koreksi, diikuti properti dan keuangan. Nilai transaksi menipis, likuiditas menurun. Investor ritel pun mulai waspada, menunggu sinyal kebijakan atau data makro yang menenangkan.
Pelajaran minggu ini: euforia HUT tak menjamin kelangsungan tren naik. Tanpa aliran dana asing yang stabil dan perbaikan fundamental emiten, IHSG rentan terhadap kejutan sentimen. Perhatikan level support 6.300–6.350 pekan depan — penetrasi ke bawah bisa membuka ruang ke 6.200-an.