Lanskap keamanan siber 2026 penuh tantangan besar. Rata-rata biaya pelanggaran data global mencapai rekor USD 4,99 juta per insiden, menurut IBM Cost of a Data Breach Report. Angka ini bahkan lebih tinggi untuk perusahaan yang diserang dengan bantuan AI, yang menambah sekitar USD 1 juta di atas biaya rata-rata. Sementara itu, 18 persen analis Security Operations Center (SOC) kini harus mengakomodasi pekerjaan kerentanan di tengah beban kerja yang sudah padat.
Menariknya, bulan Juli 2026 disebut sebagai bulan ketika agen AI mulai menyerang sendiri, tanpa campur tangan manusia. Ini menandakan pergeseran dari ancaman yang direkayasa manusia menjadi ancaman yang terotomatisasi penuh.
Serangan siber juga kian menyasar infrastruktur kritis. Otoritas AS tengah memeriksa apakah peretasan Iran menjadi aktor di balik serangan terhadap sistem air Minnesota, tempat sekitar 36 sistem air kota menjadi sasaran. Aktivitas siber berbahaya tercatat berdampak pada teknologi sistem air di sedikitnya tujuh negara bagian dalam sepekan.
Di sektor lain, insiden browser mendominasi. Laporan DBIR 2026 menemukan 62 persen pelanggaran melibatkan unsur manusia, dengan phishing memicu 16 persen insiden. Data lapisan browser bahkan menunjukkan phishing dan sosial engineering menyumbang 46 persen dari serangan browser selama 2025. Ini pengingat bahwa keamanan siber adalah urusan manusia sekaligus urusan teknologi.