Pasar modal Indonesia mengawali Oktober 2026 dengan koreksi. IHSG turun 1,02% ke level 6.009,50 pada perdagangan Kamis (1/10), menyentuh penutupan terendah dalam lebih dari dua bulan. Indeks sempat menyentuh 5.973 sebelum bertahan di atas 6.000.
Tiga sentimen utama membebani pasar. Pertama, reshuffle Kabinet Merah Putih oleh Presiden Prabowo Subianto. Investor cermati figur baru di posisi strategis kementerian koordinator dan teknis. Analis Mirae Asset menilai pasar sedang dalam mode risk off — kombinasi foreign outflow, pelemahan rupiah, dan tekanan global. Net sell asing di pasar reguler mencapai Rp1,56 triliun.
Kedua, inflasi September naik ke 3,28% (dari 3,19% Agustus), sementara yield SBN tenor 10 tahun naik 5,3 bps ke 7,159%. Kombinasi ini menekan sentiment investor domestik.
Ketiga, dan paling menarik: 1 Oktober adalah hari pertama short selling resmi berlaku di BEI. Tahap awal hanya dua sekuritas — Semesta Indovest dan Ajaib — dengan lima saham: ASII, BBCA, BRPT, BUMI, dan INDF. Persyaratannya cukup ketat: rekening efek reguler minimal enam bulan.
Analis MNC Sekuritas memperkirakan IHSG berisiko melanjutkan koreksi ke 5.850–5.911. Support terdekat di 5.949 dan 5.872, resistance di 6.187 dan 6.297. Saham yang direkomendasikan untuk hari Jumat: ASII (trading buy 4.490–4.510), ARCI (buy on weakness 1.095–1.170), BMRI (buy on weakness di 4.010), dan BULL.
Jangka menengah, pemulihan IHSG bergantung pada empat variabel: pertumbuhan laba emiten, stabilisasi rupiah, arah suku bunga BI, dan arus dana asing. Reshuffle kabinet bisa jadi katalis positif — jika kebijakan yang muncul kredibel dan eksekusinya nyata.