Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada penutupan perdagangan Kamis (24/9/2026). Indeks ditutup di level 6.298,60, turun 76,3 poin atau 1,20 persen dari penutupan hari sebelumnya. Ini menjadi penutupan terburuk dalam sepekan terakhir sekaligus mengembalikan IHSG ke bawah level psikologis 6.300.
Lonjakan Yield Treasury Membebani
Sentimen utama yang membebani pasar datang dari global. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun melonjak menembus 5,2 persen, level tertinggi sejak 2007. Data aktivitas bisnis AS yang kuat memicu spekulasi The Fed masih akan menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi.
Kenaikan yield ini menekan pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, karena memicu capital outflow dan mendorong imbal hasil SBN naik. Dari dalam negeri, Bank Indonesia telah mempertahankan BI Rate di 5,75 persen pada RDG 22-23 September, sesuai ekspektasi mayoritas pasar.
Proyeksi Analis
Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai sentimen IHSG pada perdagangan Jumat (25/9) mixed-to-cautious. Secara teknikal, IHSG telah menguji moving average 60 untuk kedua kalinya. Support diproyeksikan di level 6.254 dan 6.146, sedangkan resistance di 6.352 dan 6.429.
Sementara itu, analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG masih berpotensi terkoreksi dan menguji area 6.208-6.258 sebelum mencoba melanjutkan penguatan. Ia merekomendasikan INCO, MDKA, SSIA, dan TAPG sebagai saham pilihan.
Dengan tekanan global yang masih kuat, investor disarankan mencermati pergerakan yield treasury dan arus dana asing sebelum mengambil posisi baru.