Anthropic mengumumkan penemuan pertama dari laboratorium biologi molekuler mereka: sebuah sistem enzim baru di DNA bakteri yang disebut mirip CRISPR, mekanisme penyuntingan gen yang kini banyak dipakai dalam terapi. Yang menarik, penemuan ini dilakukan oleh model AI andalan mereka, Claude, secara “otonom”.
Bagaimana AI menemukannya? Sekitar 950 agen bertenaga Claude memindai basis data besar sekuens DNA selama 21 jam. Mereka menemukan lebih dari 200.000 gen untuk satu jenis enzim, lalu memilih 20 kandidat untuk diteliti lebih dekat — pekerjaan yang menurut perusahaan akan memakan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan bagi ilmuwan manusia. Salah satu agen melihat pola DNA pendek berulang di dekat dua gen pada virus yang menginfeksi bakteri, yang selama ini luput dari perhatian para peneliti.
Belum tentu “CRISPR berikutnya”. Sistem yang dijuluki ART itu memang menunjukkan pola yang “mengingatkan pada CRISPR” dan diduga dapat diprogram, tapi fungsinya belum diketahui. Dario Amodei, CEO Anthropic, menyebutnya “pendahuluan” yang mungkin merupakan mekanisme penyuntingan gen baru yang kelak berguna untuk terapi gen. Namun pakar mengingatkan: belum ada bukti sistem ini menjadi tandingan CRISPR secara teknologi atau bisa dikembangkan menjadi aplikasi terapeutik.
Harapan besar, verifikasi tetap jalan. Konsensus awal di kalangan matematikawan juga menyambut temuan AI yang memecahkan masalah matematika terbuka sejak 1947 — tanda bahwa AI mulai menjadi mitra riset yang serius. Temuan ART masih perlu eksperimen lanjutan, tetapi momentumnya jelas: AI tidak lagi sekadar alat bantu, melainkan penemu.