Pasar saham Indonesia tutup 2026 di zona merah parah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat turun 37,69 persen sepanjang tahun ini, salah satu penurunan tahunan terdalam dalam sejarah BEI.
Puncak tekanan terjadi 16 Oktober 2026, saat IHSG anjlok 11,57 persen ke level 5.185 — jatuh terdalam dalam satu hari sejak krisis 1998. Beberapa saat indeks sempat picu trading halt. Rupiah ikut tertekan, sementara net sell investor asing selama 2026 sudah menyentuh Rp97,9 triliun.
Sebagai respons, BEI menyesuaikan kriteria IHSG. Mulai 2 November 2026, 82 saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dan korelasi antar saham yang tinggi dikeluarkan dari perhitungan indeks. Saham-saham itu tetap dapat diperdagangkan di bursa, hanya tidak lagi dihitung dalam gerakan IHSG.
Tujuan langkah ini: membuat komposisi indeks lebih merepresentasikan kondisi pasar yang sehat dan mengurangi volatilitas yang dipicu oleh saham likviditas sempit. Bobot perbankan besar di IHSG akan makin dominan.
Bagi investor ritel, perubahan indeks bukan alasan untuk jual impulsif. Cek fundamental emiten yang dipegang: harga, free float, dan likuiditas. Keputusan investasi lebih baik berlandaskan data, bukan headline.
Disclaimer: Bukan rekomendasi jual/beli. Keputusan investasi di tangan masing-masing.