Pekan perdagangan 14-18 September 2026 menjadi titik krusial bagi pasar modal Indonesia. Perhatian investor tertuju pada keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan Bank of Japan (BoJ) yang akan menentukan arah pergerakan IHSG. Sentimen global pekan lalu diwarnai meningkatnya risiko pasokan energi dan respons geopolitik dari blok ekonomi berkembang, yang ikut menekan laju indeks.
Kiwoom Sekuritas memproyeksikan IHSG September 2026 bergerak volatil di kisaran 6.300-6.650, terimbas kebijakan moneter The Fed, ECB, dan BOJ, serta rebalancing FTSE Russell. IndoPremier bahkan memperkirakan volatilitas bulan ini lebih tinggi dibanding Agustus, dengan risiko utama berasal dari kebijakan bank sentral utama yang diumumkan pada pertengahan September. Kontan menambahkan, meski diprediksi sideways-bearish, valuasi yang sudah murah justru membuka peluang rebound dan seleksi saham.
Data awal bulan mencatat IHSG sempat mengawali September dengan momentum dua bulan penguatan beruntun, namun indeks masih tertekan 24,53% secara year-to-date. Pada 10 September, IHSG tercatat turun tipis 0,06% ke level 6.674. Inflasi Amerika Serikat, eskalasi geopolitik Timur Tengah, dan rebalancing MSCI tetap menjadi bayang-bayang yang membatasi ruang penguatan.
Bagi investor, pendekatan selektif menjadi kata kunci. Saham dengan fundamental kuat dan valuasi terdiskon layak diakumulasi bertahap, sementara posisi defensif disarankan menjelang pengumuman suku bunga. Hasil rapat The Fed dan BoJ pekan ini akan menjadi kompas arah IHSG hingga akhir September.