Pasar modal Indonesia memulai pekan dengan koreksi. IHSG ditutup melemah 56,43 poin atau 0,88% ke level 6.384,73 pada Senin (21/9/2026), seiring pelaku pasar bersikap hati-hati menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung 22-23 September. LQ45 ikut terkoreksi 0,93% ke 634,29.
Teknikal: Rising Wedge Breakdown
BRI Danareksa Sekuritas mencatat IHSG telah menembus ke bawah pola rising wedge dan kembali berada di bawah MA20 (6.410). MACD masih menunjukkan bearish crossover dengan histogram negatif yang melebar, sehingga indeks berpotensi menguji area support 6.200-6.180. Investor disarankan mencermati reaksi harga di area tersebut sebelum menentukan arah berikutnya.
Sentimen: Rupiah dan Suku Bunga Global
Tekanan utama berasal dari kekhawatiran pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp17.800 per dolar AS, imbas kenaikan suku bunga The Fed, Bank of Japan, dan ECB masing-masing 25 bps pada September. Ekspektasi pasar masih mengarah pada BI Rate dipertahankan di 5,75% dengan intervensi valas yang dioptimalkan. Harga minyak di kisaran US$100 per barel dan konflik Timur Tengah turut membayangi.
Menariknya, mayoritas bursa Asia justru menguat: Nikkei naik 1,38%, Hang Seng 1,18%, dan Kospi 1,65%. Sektor domestik yang paling tertekan adalah infrastruktur (-1,38%), barang konsumen primer (-0,94%), dan energi (-0,93%).
Keputusan BI pekan ini akan menjadi penentu arah IHSG selanjutnya, khususnya respons terhadap tekanan rupiah dan yield global.
Sumber: ANTARA News, Kompas.com