Ancaman siber global memasuki babak baru di 2026. Laporan terbaru mengungkap bahwa peretas kini menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mengembangkan dan mengeksekusi serangan zero-day yang sebelumnya sulit dilakukan.
Google Threat Intelligence Group (GTIG) mengonfirmasi bahwa aktor ancaman berhasil menggunakan AI untuk mengidentifikasi dan mengeksploitasi celah keamanan zero-day. Analisis terhadap kode eksploitasi menunjukkan tingkat keyakinan tinggi bahwa AI model digunakan dalam proses pembuatannya — ini menjadi bukti pertama serangan zero-day murni buatan AI di dunia nyata.
Di sisi lain, CISA memperluas peringatan terhadap peretas yang berafiliasi dengan Iran yang menyerang infrastruktur kritis AS, termasuk fasilitas air dan energi. Serangan ini meningkat frekuensinya dan menargetkan sektor-sektor vital yang minim perlindungan siber.
Tren ransomware juga menunjukkan pergeseran. ShinyHunters kembali melancarkan serangan dengan data jutaan pengguna diperjualbelikan. Pelanggaran data di jaringan DHS turut menyoroti bahwa bahkan lembaga pemerintah pun rentan.
Bagi perusahaan di Indonesia, langkah mitigasi wajib diperkuat: patch management ketat, zero-trust architecture, pelatihan kesadaran keamanan, dan backup data berkala. Era serangan siber berbasis AI sudah dimulai — bersiap sekarang adalah satu-satunya pilihan.