Lanskap keamanan siber Indonesia di 2026 makin mencekam. Ketua Indonesia Cyber Security Forum (ICSF), Ardi Sutedja, mengungkap praktik hacker for hire atau peretas bayaran kian marak. Layanan semacam ini membuat serangan siber tidak lagi membutuhkan keahlian tinggi — siapa pun dengan budget bisa menyewa peretas untuk menyerang institusi tertentu.
Data Kementerian Komunikasi dan Informatika memperkuat kekhawatiran itu: Indonesia menghadapi sekitar 1,2 miliar serangan siber setiap harinya. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara paling rentan di kawasan. Pakar Universitas Airlangga bahkan menyebut Indonesia berpotensi besar menjadi “target empuk” karena transformasi digital berjalan cepat, tetapi kesadaran dan kesiapan keamanan belum merata.
Dari sisi teknik, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat sekitar 90% kerentanan keamanan siber di Indonesia berasal dari malware. Serangan malware jauh lebih dominan dibanding DDoS, umumnya menyasar pencurian data dan peretasan akun. Ini selaras dengan deretan kasus besar sebelumnya: kebocoran data Tokopedia, serangan ransomware di PDNS 2, hingga peretasan Tiket.com dan Citilink.
Yang lebih mengkhawatirkan, penjahat siber mulai memanfaatkan kecerdasan buatan. Operator ransomware Aurora diketahui menggunakan Cursor AI untuk memperkuat serangannya. Kombinasi AI dan ransomware membuat deteksi dan respons makin sulit dilakukan.
Evaluasi singkat: perketat pertahanan dasar (patch rutin, backup terpisah, pelatihan phishing), karena malware dan peretas bayaran menyerang lewat celah yang paling sederhana.