Pasar modal Indonesia memasuki Agustus 2026 dengan momentum positif. Setelah penurunan signifikan di paruh pertama tahun ini, IHSG berhasil kembali menembus level 6.000, ditopang aksi beli investor domestik di tengah pelemahan arus dana asing.
Pada perdagangan 30 Juli 2026, IHSG ditutup menguat 1,56 persen ke level 6.186,36 dengan nilai transaksi Rp12,92 triliun dan kapitalisasi pasar BEI naik menjadi Rp10.812 triliun. Momentum ini berlanjut memasuki awal Agustus, seiring lanskap investasi yang diwarnai pergeseran fokus pelaku pasar.
Analis menilai banyak investor mulai beralih dari transaksi spekulatif jangka pendek menuju penataan ulang portofolio berbasis aset berfundamental kuat. Fase akumulasi ini dinilai krusial bagi emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Sektor perbankan dan telekomunikasi tetap menjadi pilar utama, dengan emiten blue chip menunjukkan ketahanan fundamental yang solid.
Prospek pasar modal diproyeksikan tetap positif berkat kombinasi kebijakan moneter global yang lebih longgar dan stabilitas ekonomi dalam negeri. Meski demikian, volatilitas diperkirakan masih tinggi, menanti sejumlah data ekonomi penting dan keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.
Secara teknikal, untuk perdagangan Senin 3 Agustus 2026, IHSG diprediksi menguji level 6.300–6.380. Sejumlah saham layak dicermati, antara lain BRMS, ENRG, MBMA, dan PSAB.
Bagi investor, strategi yang bijak di fase akumulasi adalah selektif memilih saham berfundamental kuat dan disiplin pada target valuasi, alih-alih mengejar pergerakan jangka pendek.