Skip to content
Teguh Yuhono
Go back

FAA Investasi $875 Juta untuk AI: Akhir dari Delay Penerbangan?

Siapa yang tidak kesal menunggu berjam-jam di bandara karena delay? Kabar baik: Federal Aviation Administration (FAA) Amerika Serikat baru saja menggelontorkan dana $875 juta untuk mengatasi masalah ini — dengan kecerdasan buatan.

Melalui kontrak dengan Air Space Intelligence (ASI), FAA meluncurkan sistem Flow Management Data and Services (FMDS) dengan kemampuan SMART. Sistem ini menggunakan predictive AI untuk menganalisis pola lalu lintas udara, cuaca, dan kapasitas bandara, lalu merekomendasikan pengaturan rute secara real-time.

Yang menarik: FMDS tidak hanya bekerja beberapa jam sebelumnya, tapi bisa memprediksi kepadatan udara berminggu-minggu hingga berbulan-bulan ke depan. Pendekatan proaktif ini menggantikan sistem lama yang hanya reaktif — menunggu sampai terjadi kemacetan baru bertindak.

“FMDS dengan kemampuan SMART akan membantu kami mengelola wilayah udara sebelum pesawat lepas landas, mengurangi kemacetan, meringankan beban pengawas lalu lintas, dan secara langsung memangkas delay di seluruh sistem,” demikian pernyataan resmi FAA.

Dampaknya signifikan. Dengan rerouting prediktif, pesawat bisa diarahkan menghindari cuaca buruk atau kepadatan sebelum terjadi. Ini bukan hanya menghemat waktu penumpang, tapi juga bahan bakar dan emisi karbon.

Sistem AI di sektor penerbangan memang berkembang cepat. Maskapai seperti Delta dan United sudah mengadopsi AI untuk operasional mereka. Kini, otoritas penerbangan pun ikut terjun. Pertanyaannya: kapan otoritas penerbangan di Asia, termasuk Indonesia, menyusul?



Previous Post
Pasar Modal Indonesia Juli 2026: 26 Juta Investor, 957 Emiten, dan Dinamika IHSG
Next Post
1,52 Miliar Serangan Siber di Awal 2026: AI Jadi Senjata Baru Peretas