Pasar modal Indonesia kembali diuji. Setelah bank sentral Amerika Serikat (The Fed) mengerek suku bunga acuan, nilai tukar rupiah tembus level Rp17.700. Kenaikan bunga The Fed itu dinilai menjadi risiko baru bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan kembali menguji daya tahan pasar saham domestik.
Tekanan berasal dari aksi jual investor asing. Arus modal keluar dari bursa saham Indonesia diperkirakan bakal terus berlanjut, mencerminkan ekspektasi pemodal terhadap arah kebijakan pemerintah. Capital outflow ini menjadi salah satu variabel yang membayangi pergerakan IHSG dalam beberapa pekan terakhir.
Namun di tengah pelemahan, valuasi menjadi perhatian. Bloomberg Technoz mencatat valuasi IHSG sudah tergolong murah dan layak untuk diserok: price to earnings ratio (PER) berada di kisaran 10,84 kali dengan price to book value (PBV) sekitar 1,74 kali. Level tersebut dinilai menarik bagi investor dengan horizon jangka menengah.
Sementara itu, penundaan rebalancing MSCI ikut mewarnai sentimen. Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) angkat bicara menanggapi keputusan tersebut, berupaya menjaga kepastian bagi pelaku pasar.
Untuk perdagangan hari ini, pelaku pasar tetap mencermati dampak lanjutan kenaikan suku bunga The Fed terhadap pergerakan IHSG. Analis menyarankan seleksi saham berbasis fundamental, terutama emiten yang tahan terhadap lingkungan suku bunga tinggi, sambil menunggu kejelasan arah arus modal asing.