IHSG menutup perdagangan Jumat (25/9/2026) di zona merah, turun 56,72 poin atau 0,90 persen ke level 6.241,89. Sepanjang sesi indeks bergerak variatif antara 6.328,41 sebagai tertinggi dan 6.231,83 sebagai terendah. LQ45 melemah 0,35 persen ke 621,11. Dari sebelas sektor IDX-IC, semuanya berakhir negatif, dengan industri turun 2,52 persen sebagai koreksi terdalam, disusul infrastruktur 2,22 persen dan properti 1,26 persen.
Bank Jadi Beban
Yang menarik perhatian bukan hanya angka indeksnya, tapi komposisinya. Saham-saham bank berkapitalisasi besar menjadi penopang penurunan: BMRI, BBCA, BBRI, sama-sama tertekan. Pada sesi sebelumnya, BMRI bahkan mencatat net foreign sell terbesar sekitar Rp531,94 miliar. Di sisi lain, ada saham yang menahan pelemahan seperti FORU, DSSA, ENRG, dan ASII.
Nilai transaksi harian masih mencapai Rp9,6 triliun dengan volume 33,3 miliar saham, cukup aktif meski arahnya turun.
Arus Dana Asing Keluar
Gambarannya lebih jelas lewat data foreign flow. Pada Kamis (24/9), investor asing membukukan net sell sekitar Rp1,49 triliun di seluruh pasar, dengan pasar reguler menyumbang sekitar Rp1,42 triliun. meski ada saham yang tetap kebanjiran dana asing seperti ASII (Rp24,42 miliar), MEDC (Rp20,44 miliar), dan COIN (Rp20,12 miliar), arus terbesar tetap keluar.
Dua Cerita yang Perlu Dibedakan
Ada dua hal yang sering tercampur di kepala investor. Pertama, angka foreign flow adalah snapshot satu sesi, bukan prediksi arah harga. ASLI adalah buktinya: saham ini masuk daftar net foreign buy terbesar, melonjak 17,39 persen, tapi keesokan harinya BEI menghentikan perdagangannya karena kenaikan harga kumulatif yang signifikan.
Kedua, level teknikal masih jadi rujukan. Analis BinaArtha Ivan Rosanova memproyeksikan support di 6.159, 6.015, dan 5.850 dengan resistance di 6.423. Selama indeks gagal menembus 6.423, risiko turun masih terbuka.