Lanskap keamanan siber Indonesia memasuki babak yang lebih menekan di 2026. Data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang dikutip ANTARA mencatat 1,52 miliar serangan siber pada periode 1 Januari hingga 15 April 2026. Angka ini menunjukkan eskalasi yang tajam dibanding tahun-tahun sebelumnya, dan menegaskan bahwa serangan tidak lagi mengecualikan sektor mana pun — dari keuangan hingga infrastruktur kritis.
Ransomware masih menjadi momok nomor satu. Laporan BSSN menyebut serangan ransomware meningkat 67% sepanjang 2025–2026. Modusnya makin beragam: enkripsi data, pencurian data ganda (double extortion), hingga serangan rantai pasok. Organisasi yang tidak memiliki backup terisolasi dan rencana respons insiden berada dalam posisi paling rentan.
Ancaman berbasis AI kian nyata. Dr. Pratama Persadha, Chairman CISSReC, memperingatkan bahwa serangan siber bertenaga AI semakin tidak terhindarkan. AI digunakan untuk mengotomatisasi phishing yang lebih personal, menemukan celah lebih cepat, dan menciptakan malware adaptif. Di sisi lain, AI juga menjadi senjata pertahanan — asalkan tim keamanan memanfaatkannya lebih dulu.
IoT yang kurang diamankan menjadi pintu masuk baru. Semakin banyak perangkat terhubung, semakin luas permukaan serangan. Perangkat IoT dengan kata sandi bawaan sering dieksploitasi untuk membentuk botnet dan melancarkan serangan DDoS.
Strategi mitigasi 2026 tidak bisa lagi reaktif. Prioritasnya: patch manajemen yang disiplin, pemantauan berbasis SIEM, backup 3-2-1, pelatihan kesadaran keamanan karyawan, dan adopsi keamanan AI untuk deteksi anomali secara real-time. Kesadaran dan kesiapan adalah pembeda antara korban dan yang selamat.