Ancaman siber berbasis kecerdasan buatan (AI) mengalami lonjakan signifikan pada tahun 2026. Di Asia Tenggara, serangan berbasis AI meningkat hingga tiga kali lipat dibanding tahun sebelumnya, menjadikannya salah satu tantangan keamanan siber paling mendesak di kawasan.
Menurut laporan terbaru, 54 persen organisasi di Indonesia telah terdampak serangan siber berbasis AI. Teknologi AI memungkinkan penyerang mengotomatisasi proses pengintaian dan meluncurkan kampanye phishing yang jauh lebih meyakinkan. Serangan deepfake dan social engineering yang dipersonalisasi juga kian marak, mempersulit deteksi manual oleh pengguna biasa.
Yang mengkhawatirkan, hanya sekitar 13 persen organisasi yang merasa sangat percaya diri dengan kemampuan pertahanan siber mereka. Bahkan 18 persen organisasi mengaku tidak memiliki sistem yang memadai untuk melacak serangan berbasis AI. Kesenjangan ini diperparah oleh krisis tenaga kerja siber global, di mana jumlah profesional keamanan siber tidak sebanding dengan volume ancaman yang terus bertambah.
Kaspersky juga melaporkan bahwa ancaman ransomware terhadap UMKM di Asia Tenggara masih tinggi. Pelaku kejahatan siber kini menggunakan AI untuk mengidentifikasi target yang paling rentan dan menyusun serangan yang lebih efektif.
Para ahli menekankan tiga tantangan utama yang harus dihadapi: peningkatan serangan berbasis AI, keterbatasan talenta keamanan siber, dan rendahnya kesiapan organisasi. Solusi mencakup investasi pada sistem deteksi berbasis AI untuk bertahan melawan serangan AI, serta pelatihan keamanan siber berkelanjutan bagi karyawan.