Pasar modal Indonesia memasuki fase volatilitas tinggi sepanjang Agustus 2026. Meskipun indeks utama IBCOM (IHSG) alami tekanan, pelaku asing justru mencatatkan net buy Rp1,58 triliun, menunjukkan minat institusional yang masih kuat terhadap saham-saham pilihan.
Asing Serok 10 Saham Pilihan
Momentum keterpurukan IHSG dimanfaatkan investor asing untuk akumulasi di 10 saham sektor-sektor kunci. Pola ini lazim disebut contrarian buying — strategi membeli di saat sentimen domestik melemah. Saham-saham perbankan, infrastruktur, dan energi terbarukan menjadi incaran utama pelaku asing.
CIMB Niaga: IHSG Bisa Tembus 8.000
Dalam riset ekonominya, CIMB Niaga mengidentifikasi tiga skenario pergerakan IHSG sepanjang 2026. Skenario optimistis memproyeksikan IHSG mampu menyentuh level 8.000, didorong oleh perbaikan rasio kredit macet (NPL), arus modal asing yang deras, serta konsumsi domestik yang tetap solid di tengah tekanan suku bunga tinggi.
Skenario moderat memprediksi IHSG stabil di kisaran 7.200–7.500, mentre realistas memperingatkan potensi penurunan ke level 6.500 jika kombinasi kenaikan suku bunga The Fed dan pelemahan rupiah terus berlanjut.
Minat Valas Naik, tapi Instrumen Domestik Tetap Dilirik
berita terpisah, CIMB Niaga mencatat pertumbuhan 20% pada simpanan valas Nasabah sepanjang semester pertama 2026. Ini mencerminkan perilaku hedging di kalangan investor ritel. Di sisi lain, instrumen investasi domestik seperti reksadana campuran dan obligasi korporasi tetap menarik karena menawarkan imbal hasil kompetitif di era high interest rate.
BNI lewat platform wondrX juga mencatatkan performa impresif dengan 100 ribu pengunjung dan transaksi mencapai Rp2,73 triliun sepanjang 2026.
Implikasi untuk Investor
bagi investor, fase turbulensi seperti ini menawarkan peluang akumulasi — terutama pada saham-saham fundamental kuat yang turun bersama pasar. Namun, diversifikasi lintas instrumen tetap jadi kunci. Skenario CIMB Niaga mengingatkan bahwa volatilitas adalah bagian alami dari pasar, dan tidur malam investor bergantung pada toleransi risiko masing-masing.
Kini, pertanyaan besarnya: apakah IHSG mampu rebound pasca-koreksi, atau tekanan eksternal akan bertahan lebih lama dari proyeksi? Waktu yang menjawab.
Sumber: CNBC Indonesia, Kontan, Bloomberg