Tahun 2026 seharusnya jadi tahun AI matang. Tapi yang terjadi justru sebaliknya: makin canggih AI-nya, makin banyak pertanyaan mendasar yang belum terjawab. MIT Technology Review merangkum tiga paradoks besar yang sedang terjadi di sekitar kita.
Paradoks Pertama: AI di Kelas, Guru Bingung
Chatbot memasuki sekolah dengan ledakan pada 2023-2024. Siswa membawa AI di saku yang bisa menjawab hampir semua pekerjaan rumah. Guru? Kelelahan. Mereka bukan hanya mengajar, tapi juga belajar mendeteksi tulisan berbot yang sering punya ciri khas—“terlalu banyak tanda hubung,” kata beberapa guru.
Cheshire Academy, sekolah asrama di Connecticut, mencoba pendekatan pragmatis: tidak memaksa guru menggunakan AI, tapi mayoritas menggunakannya dalam beberapa bentuk. Ada yang pakai ChatGPT, ada yang pakai MagicSchool, platform AI khusus edukasi. Pendekatan mereka, “lampu lalu lintas” untuk menjelaskan kapan AI boleh dan tidak boleh dipakai untuk tugas.
Masalahnya? Tidak ada standar. Dari OpenAI hingga UNESCO memberi sinyal “gunakan AI,” tapi petunjuk teknis untuk guru tetap minim.
Paradoks Kedua: AI Rancang Obat, Tapi yang Dapat Paten Tetap Manusia
Perusahaan biotek seperti Insilico Medicine menggunakan AI untuk merancang molekul obat baru—bahkan cukup baik sampai bisa menyembuhkan fibrosis paru. Dalam rilis pers, perusahaan mengklaim molekul itu “ditemukan oleh” platform AI mereka.
Tapi saat mengajukan paten? Tidak ada satu pun nama AI di daftar penemu. Yang tercantum lima manusia, termasuk CEO. hukum paten tidak mengizinkan AI disebut sebagai penemu. Tidak peduli seberapa besar peran AI, yang bisa dikreditkan tetap manusia. Ini bukan sekadar masalah teknis—ini pertanyaan besar tentang siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas efek samping obat temuan AI.
Paradoks Ketiga: Perdebatan Kesadaran AI Justru Membantu Perusahaan Menghindari Tanggung Jawab
“AI kesadaran” jadi perdebatan populer 2026. Di satu sisi, para pemimpin tech seperti Sam Altman dan Demis Hassabis menyebut AI sudah terlalu canggih untuk diatur oleh manusia biasa. Di sisi lain, kelompok akademis bertanya-tanya apakah manusia punya “hak moral” mengatur sistem yang terlihat sangat sadar.
Tapi di balik perdebatan filosofis itu, ada agenda yang lebih pragmatis. Jika AI dianggap terlalu canggih untuk dikendalikan siapa pun, maka tidak ada entitas—manusia maupun korporasi—yang bisa dimintai pertanggungjawaban atas kerugian yang ditimbulkan. Narasi “AI terlalu kompleks” secara tidak langsung membebaskan perusahaan builder dari tanggung jawab hukum.
Tiga paradoks ini bukan kebetulan. Mereka lahir dari satu akar yang sama: kita membangun sistem yang jauh mendahului aturan yang seharusnya memitigasinya. Di 2026, pertanyaan besarnya bukan lagi “apakah AI bisa melakukan X?” tapi “siapa yang bertanggung jawab saat AI melakukannya?”
Jawaban untuk tiga pertanyaan di atas—di kelas, di lab farmasi, di pengadilan patent—akan menentukan bagaimana manusia dan mesin bekerja sama dalam dekade berikutnya. Dan saat ini, ketiganya masih jauh dari kata selesai.