Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya kembali ke zona hijau pada perdagangan sesi pertama Kamis, 30 Juli 2026. Indeks komposit ditutup menguat di level 6.147,96, kompak dengan LQ45 dan ISSI, setelah sehari sebelumnya tertekan ke zona merah.
Pada Rabu, 29 Juli 2026, IHSG parkir di zona merah dengan koreksi 0,60%. Saham big caps seperti BREN, BBRI, hingga BYAN menjadi pengganjal terbesar pergerakan indeks komposit. Pelemahan ini merupakan kelanjutan tekanan sejak pekan sebelumnya. Jumat, 24 Juli 2026, IHSG melemah 118,88 poin atau minus 1,88 persen ke level 6.196.
Sentimen yang membebani pasar modal Indonesia belakangan ini datang dari dua arah: eskalasi konflik AS-Iran dan kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Tekanan ini bahkan sempat mendorong Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan trading halt. Ekonom menyebut IHSG menjadi yang terlemah di Asia, sebuah anomali karena mayoritas indeks Asia justru bergerak positif.
Arus dana asing pun menunjukkan pola beragam. Pada penutupan Jumat, 24 Juli 2026, BMRI menjadi salah satu saham dengan net sell asing terbesar. Namun di saat bersamaan, asing masih memburu BBRI dan BBCA meski IHSG ditekan konflik.
Analis memproyeksikan IHSG berpotensi lanjut koreksi ke kisaran 6.050-6.150. Saham seperti ASII disebut berpeluang menguat menuju level 5.300. Pelaku pasar disarankan mencermati saham berkapitalisasi besar dan mengelola risiko di tengah volatilitas geopolitik yang masih tinggi.