Juli 2026 menjadi titik balik regulasi AI global. Uni Eropa secara resmi memerintahkan Google untuk membuka ekosistem Android bagi asisten dan model AI dari kompetitor, dalam sebuah keputusan yang bisa mengubah lanskap mobile AI selamanya.
Keputusan ini merupakan bagian dari gugatan antimonopoli yang lebih luas terhadap dominasi Google di pasar mobile. Komisi Eropa menilai bahwa praktik Google mengunci asisten default — termasuk Gemini — menghambat inovasi dan pilihan konsumen. Kini, pengguna Android di Eropa bisa memilih asisten AI seperti Claude, Grok, atau ChatGPT sebagai default, tanpa harus melalui hambatan teknis.
Tak hanya Google, Oracle mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 30.000 karyawan sebagai bagian dari restrukturisasi besar-besaran untuk proyek Stargate — inisiatif infrastruktur AI senilai $500 miliar. Langkah ini menandai pergeseran strategis dari bisnis database tradisional menuju komputasi AI skala raksasa.
Di sisi lain, sengketa Apple vs OpenAI memasuki babak baru dengan gugatan yang menuntut transparansi lebih besar dalam penggunaan data pengguna untuk pelatihan model.
Apa artinya semua ini? Regulasi dan persaingan ketat memaksa Big Tech bermain lebih adil. Bagi pengguna dan developer, lebih banyak pilihan AI berarti harga lebih murah dan inovasi lebih cepat. Tahun 2026 membuktikan: AI bukan lagi soal siapa model terbaik, tapi siapa yang bisa beradaptasi dengan aturan baru.