Tahun 2026 mencatat eskalasi signifikan dalam serangan siber global, dengan infrastruktur kritis menjadi sasaran utama. TechCrunch melaporkan deretan breach terburuk tahun ini meliputi kebocoran data besar DOGE, peretasan sistem energi dan air, hingga penetrasi sistem FBI.
Insiden paling mencengangkan terjadi pada Maret 2026, ketika pabrik pengolahan air Minot, North Dakota, terpaksa beroperasi manual setelah SCADA-nya lumpuh akibat ransomware — mengingatkan pada kasus Oldsmar 2021, kini dengan dampak lebih nyata. Di Eropa, kelompok Gentlemen Ransomware melumpuhkan perusahaan energi Oltenia, Rumania, hanya berselang beberapa hari setelah lembaga pengelola air nasional mereka kehilangan 1.000 sistem akibat serangan terpisah.
Laporan Sophos mengungkap 49% serangan ransomware di sektor energi dan air bermula dari kerentanan yang sudah diketahui namun tidak ditambal — artinya, mayoritas insiden ini sebenarnya bisa dicegah dengan disiplin patch management.
Indonesia tidak luput. CYFIRMA mencatat lanskap ancaman nasional didominasi operasi pencurian data. 7,5 juta catatan warga Indonesia dilaporkan terekspos, sementara pusat data nasional dienkripsi varian LockBit ransomware. Aktor ancaman Bjorka kembali muncul, menambah tekanan pada sektor perbankan.
Pelajarannya jelas: infrastruktur kritis bukan lagi target teoretis. Setiap organisasi harus menganggap serangan sebagai kepastian, bukan kemungkinan. Enkripsi menyeluruh, backup offline, dan pelatihan staf bukan lagi opsional — ini kebutuhan dasar.