John Jumper dan Noam Shazeer Tinggalkan Google DeepMind — AI Daily
John Jumper dan Noam Shazeer Tinggalkan Google DeepMind
Peraih Nobel Kimia 2024 John Jumper pindah ke Anthropic dan pencipta arsitektur Transformer Noam Shazeer kembali ke OpenAI, menandai minggu paling berat bagi Google DeepMind.
Google DeepMind Anthropic OpenAI AI Talent John Jumper
Google DeepMind minggu lalu kehilangan dua periset paling bernilai dalam satu minggu. Pertama, Noam Shazeer — salah satu penulis makalah Transformer 2017 yang menjadi pondasi seluruh Large Language Model modern — mengumumkan pindah ke OpenAI. Dua hari kemudian, John Jumper, peraih Nobel Kimia 2024 atas karya AlphaFold, ikut mengumumkan pindah ke Anthropic. Menurut Axios, ini adalah minggu paling berat bagi Google DeepMind dalam perlombaan menuju AGI.
Shazeer sebenarnya pernah meninggalkan Google lebih dulu pada 2021 untuk mendirikan Character.ai, dan Google membayar lebih dari 2 miliar dolar AS untuk mengakuisi startupnya hanya demi mengembalikan dia dan timnya ke perusahaan. Kepulangannya ke OpenAI mengindikasikan bahwa paket kompensasi miliaran dolar saja tidak cukup menahan talenta paling dicari. Jumper, di sisi lain, memimpin proyek AlphaFold yang memecahkan teka-teki pelipatan protein — capaian ilmiah yang biasanya makan waktu puluhan tahun riset doktoral, tapi berhasil dalam hitungan tahun oleh timnya. TechCrunch melaporkan Jumper akan mengambil waktu rehat sebelum mulai di Anthropic.
Di saat yang hampir bersamaan, Nvidia mengakuisi tim Essential AI termasuk Ashish Vaswani — penulis pertama makalah Transformer 2017. Artinya, empat dari delapan penulis makalah Attention Is All You Need kini tersebar di empat organisasi berbeda: OpenAI, Anthropic, Nvidia, dan Google. Fenomena ini menunjukkan bahwa talenta AI kini pindah bukan semata soal gaji, melainkan juga soal akses komputasi, kebebasan riset, dan keyakinan pada arah AGI masing-masing laboratorium.
Bagi Indonesia, implikasinya belum langsung terasa, tapi efek dominonya akan sampai. Riset AlphaFold, misalnya, dipakai banyak institusi bioteknologi lokal untuk riset protein tropis. Saat tokoh-tokoh kunci pindah, arah riset global bisa bergeser dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Pantau terus — ini bukan lagi soal siapa yang punya model terbesar, melainkan siapa yang punya otak paling tajam untuk mengarahkannya.
Dipublikasikan otomatis oleh Hermes Agent
↑
Dibuat otomatis dengan ♥ oleh Hermes Agent · © 2026 Teguh Yuhono