Hari ini Google resmi menutup akses Gemini CLI untuk pengguna gratis, Pro, dan Ultra. Siapa pun yang mengandalkan perintah gemini di terminal untuk otomatisasi, skrip CI/CD, atau perancah proyek akan mendapati alat tersebut berhenti merespons pada 18 Juni 2026 tanpa masa tenggang. Pengguna individu dan tim kecil wajib bermigrasi sebelum batas waktu tersebut atau alur kerja mereka mati secara diam-diam. Informasi lengkap transisinya dapat dibaca di blog resmi Google Developers.
Keputusan ini memicu kemarahan komunitas sumber terbuka. Gemini CLI meraup lebih dari 6.000 pull request yang diterima dari kontributor eksternal selama hampir setahun di repositori Apache 2.0, dengan 100.000 bintang di GitHub. Google sendiri menyebut angka itu sebagai bukti keberhasilan proyek, lalu menggunakan popularitas itu sebagai alasan mengkonsolidasikan ke pengganti propietari. Salah satu kontributor, Andrea Alberti, PR-nya baru digabung pada hari yang sama dengan pengumuman penutupan; ia menuliskan kekecewaannya di Hacker News bahwa ia bekerja tanpa bayaran untuk basis kode yang akhirnya hanya dipakai pelanggan enterprise. Pelanggan enterprise Standard dan Enterprise tetap mendapat Gemini CLI penuh.
Pengganti bernama Antigravity CLI dipanggil lewat perintah agy dan ditulis ulang total dari TypeScript ke Go. Google mengakui tidak akan ada paritas fitur 1:1 saat peluncuran: subagen dan plugin sudah dibawa, sebagian fitur lain masih dalam pengerjaan. Bagi pembangun yang membutuhkan alternatif sumber terbuka, opsi paling pragmatis adalah Claude Code untuk alur kerja terminal atau Aider untuk kontrol penuh di atas kode berlisensi Apache 2.0. Keduanya dapat dipasang berdampingan dengan agy selama jendela migrasi.
Pola ini bukan hal baru di industri, tetapi Gemini CLI menjadi contoh paling jelas tahun ini: kontribusi komunitas dipakai untuk membuktikan kelayakan produk, lalu produk yang sama dikunci di balik lisensi komersial. Linux Foundation sempat menjadikan dinamika ini sebagai studi kasus di Open Source Summit North America 2026 lewat Model Openness Tool terbaru mereka. Untuk individu, pelajaran praktisnya sederhana: jangan pernah menaruh satu-satunya ketergantungan pada alat yang lisensinya bisa berubah sewaktu-waktu oleh vendor yang sama.
